Terapi Inhalasi Dengan Nebulizer Aman Untuk Bayi

Terapi inhalasi adalah pemberian obat ke dalam saluran napas dengan cara inhalasi. Terapi inhalasi merupakan satu teknik pengobatan penting dalam proses pengobatan penyakit respiratori (saluran pernafasan) akut dan kronik. Terapi inhalasi dapat menghantarkan obat langsung ke paru-paru untuk segera bekerja. Dengan demikian, efek samping dapat dikurangi dan jumlah obat yang perlu diberikan adalah lebih sedikit dibanding cara pemberian lainnya.

Sayangnya pada cara pemberian ini diperlukan alat dan metoda khusus yang agak sulit dikerjakan, sukar mengatur dosis, dan sering obatnya mengiritasi epitel paru. Penggunaannya terbatas hanya untuk obat-obat yang berbentuk gas atau cairan yang mudah menguap dan obat lain yang berbentuk aerosol. Kontra indikasi mutlak pada terapi inhalasi tidak ada. Kontra indikasi relatif pada pasien dengan alergi terhadap bahan atau obat yang digunakan.


 Terapi pengobatan nebulizer pada anak

 Nebulizer Omron NE-C801


Ada beberapa cara dalam terapi inhalasi, yaitu :
  1. Inhaler dosis terukur (MDI, metered dose inhaler), 
  2. Penguapan (gas powered hand held nebulizer), 
  3. Inhalasi dengan intermitten positive pressure breathing (IPPB), serta
  4. Pemberian melalui intubasi pada pasien yang menggunakan ventilator. 
Setelah penggunaan inhaler, basuh dan kumur dengan menggunakan air. Ini untuk mengurangi/menghilangkan obat yang tertinggal di dalam rongga mulut dan tenggorokan, juga untuk mencegah timbulnya penyakit di mulut akibat efek obat (terutama kortikosteroid). Berhasil atau tidaknya pengobatan aerosol ini tergantung pada beberapa faktor, yaitu: ukuran partikel, gaya gravitasi, inersia partikel, aktivitas kinetik, sifat alamiah partikel, dan sifat dari pernapasan pasien.

Tujuan pengobatan menggunakan nebulizer

Pengobatan asma bertujuan untuk menghentikan serangan asma secepat mungkin serta mencegah serangan berikutnya ataupun bila timbul serangan kembali diusahakan agar serangannya tidak berat. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu diberi obat bronkodilator pada saat serangan dan atau obat antiinflamasi sebagai obat pengendali untuk menekan reaksi inflamasi yang terjadi.

Pemberian obat pada asma dapat dengan berbagai macam cara yaitu parenteral, oral, atau inhalasi. Pengobatan atau terapi inhalasi adalah pemberian obat secara langsung ke dalam saluran napas melalui penghisapan dalam bentuk aerosol atau serbuk (dry powder). Sebenarnya prinsip terapi inhalasi telah digunakan sejak dahulu misalnya penggunaan asap untuk pengobatan batuk.

Penggunaan aerosol sebagai pengobatan inhalasi pertama kali dikenalkan oleh Schneider dan Waltz pada tahun 1829 dan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, terapi inhalasi berkembang dengan pesat.ada awalnya bahan yang digunakan tidak turut dipertimbangkan pengaruhnya terhadap lingkungan tetapi akhir-akhir ini mulai dikembangkan penggunaan propelan yang bersahabat dengan lingkungan yaitu yang tidak merusak lapisan ozon.

Penggunaan nebulizer aman untuk bayi

Pemberian obat dengan menggunakan nebulizer sangatlah aman untuk bayi. Hal ini dikarenakan obat dapat bekerja langsung pada saluran pernapasan akibat proses inhalasi. Awitan kerja obat cepat dengan dosis minimal sehingga konsentrasi obat dalam darah sedikit, dan tentunya efek samping obatpun menjadi minimal.  Terapi ini sudah digunakan secara luas di divisi Respirologi maupun Rehabilitasi Medik.  Pemilihan terapi ini tentunya sesuai indikasi dan keberhasilannya dipengaruhi oleh pemilihan jenis obat dan teknik pemberiannya.

Alat nebulizer pada awalnya digunakan pada bayi untuk terapi asma. Namun seiring dengan perkembangan zaman nebulizer pada bayi tidak hanya digunakan untuk terapi asma melainkan untuk terapi influenza, mengeluarkan sputum atau dahak yang terdapat disaluran pernapasan bayi. Kondisi ini sangat mengganggu, bahkan bayi dapat muntah karena kesulitan mengeluarkan dahak/lendir ataupun terbangun dari tidur karena batuk.  Kasus lainnya seperti rhinitis alergi, croup, bronkiolitis, pneumonia, aspirasi, maupun penyakit paru menahun juga memberikan respon positif pasca nebulisasi.





Oleh : Bidan Rina Widyawati

Sumber :
  •  kidshealth.org




Terima kasih untuk Like/comment FB :