Terapi Asma, Pilih Inhaler atau Nebulizer ?

Pada tata laksana asma harus dibedakan dua hal penting yaitu tata laksana serangan dan tata laksana jangka panjang. Seorang anak yang telah didiagnosis asma harus ditentukan klasifikasinya. Berdasarkan Konsensus Nasional Penanganan Asma (KNAA) klasifikasi asma di luar serangan adalah asma episodik jarang, episodik sering, dan asma persisten.



Terapi pengobatan nebulizer untuk dewasa

Nebulizer ultrasonic portable Polygreen


Penggunaan obat untuk asma

Pada asma episodik jarang, tidak diperlukan obat pengendali (controller) untuk tata laksana jangka panjangnya sedangkan pada asma episodik sering dan asma persisten harus diberikan obat pengendali. Obat pengendali dari golongan antiinflamasi yang sering digunakan adalah budesonid, beklometason dipropionat, flutikason, dan golongan natrium kromoglikat.

Bila terjadi serangan maka digunakan obat pereda (reliever). Obat yang sering digunakan yaitu golongan bronkodilator seperti metilsantin (teofilin), β2 agonis, dan ipratropium bromida. Obat-obat ini dapat digunakan secara oral, parenteral, dan inhalasi tetapi untuk metilsantin pemberian secara oral dan intravena lebih dipilih daripada inhalasi karena obat ini menyebabkan iritasi saluran napas. Telah diketahui secara luas bahwa obat antiinflamasi yang sering digunakan adalah golongan steroid.

Mekanisme dasar asma adalah terjadinya reaksi inflamasi sehingga pengendalian dengan obat antiinflamasi sangat dianjurkan pada asma episodik sering dan persisten. Namun harus disadari penggunaan kortikosteroid jangka panjang peroral atau parenteral dapat mengganggu tumbuh kembang anak secara keseluruhan selain efek samping lain yang mungkin timbul seperti hipertensi dan moon-face. Untuk itu pemberian inhalasi sangat dianjurkan. Jenis terapi inhalasi yang diberikan dapat disesuaikan dengan usia pasien dan patokan ini tidak berlaku secara kaku.

Penyakit asma memang membutuhkan penanganan khusus, terutama ketika serangan asma datang. Tapi manakah yang harus dipilih untuk mengatasi asma pada anak, inhaler atau nebulizer. Studi menunjukkan alat manapun yang digunakan untuk mengatasi asma sebenarnya tidak menjadi masalah, asal digunakan dengan benar. Pada intinya semua metode akan bekerja dengan baik ketika teknik yang digunakan benar.

Inhaler merupakan obat asma yang kecil dan sangat mudah dibawa kemana-mana. Obat asma yang terdapat dalam inhaler bisa berupa spray atau bubuk yang terdapat dalam dosis tertentu. Alat ini umumnya lebih disukai oleh para orangtua dan penggunaan dosisnya lebih tepat. Inhaler yang banyak digunakan adalah Metered dose inhalers (MDI), tapi penggunaannya membutuhkan koordinasi. Karena anak harus dapat mengaktifkan perangkat dan menghirup secara bersama-sama.

Untuk itu alat ini akan sedikit lebih sulit digunakan oleh anak yang belum memiliki koordinasi yang baik. Itu sebabnya beberapa dokter menggunakan spacer (pengatur jarak) pada MDI. Selain itu ada juga inhaler bubuk kering (dry powder inhalers/DPI) yang lebih mudah digunakan karena tidak memerlukan koordinasi. Dalam penggunaannya dibutuhkan kekuatan napas anak untuk menghirup powder hingga masuk ke dalam paru-paru. Kebanyakan anak berusia di atas 6 tahun yang menggunakan alat ini, karena sudah mampu menghirup dengan cepat dan kuat.

Nebulizer dan asma

Alat nebulizer pada umumnya sangat mudah digunakan dan menggunakan mesin bertenaga listrik. Pada alat ini obat asma cair akan diubah menjadi kabut, lalu dengan menggunakan masker wajah kabut tersebut akan dihirup ke dalam paru-paru. Nebulizer umumnya jauh lebih mudah digunakan untuk anak-anak yang masih kecil dan bayi, karena tidak memerlukan koordinasi dan anak hanya perlu duduk saja sambil bernapas seperti biasa.

Selain itu alat ini akan membantu kasus asma parah menjadi lebih baik, serta dapat mengaktifkan campuran dari dua obat asma atau lebih. Namun dalam penggunaannya peran orangtua sangat penting, karena obat baru dimasukkan saat nebulizer akan digunakan. Karenanya risiko ketidaktepatan dosis obat sangat mungkin terjadi dan alat ini akan bekerja kurang optimal jika anak atau bayi menangis.




Oleh : Bidan Sulistia

Sumber :
  • health.detik.com




Terima kasih untuk Like/comment FB :