Cara Penggunaan Nebulizer dalam Terapi Asma Bronkhial

Batuk/pilek karena alergi dan asma adalah gangguan kesehatan yang paling umum terjadi. Banyak cara telah dicoba untuk mempercepat penyembuhan dan pengurangan gejala akibat masalah ini. Terapi inhalasi (nebulizer) adalah yang paling populer. Terapi inhalasi adalah terapi yang menggunakan uap hasil dari alat nebulizer. Uap air yang sudah bercampur dengan obat ini dipercaya dapat langsung mencapai daerah di saluran pernapasan sehingga obat yang dibawa lebih efektif mengatasi masalah pada daerah tersebut.

Asma adalah penyakit yang ditandai dengan penyempitan saluran pernapasan, sehingga pasien yang mengalami keluhan sesak napas/kesulitan bernapas. Tingkat keparahan asma ditentukan dengan mengukur kemampuan paru dalam menyimpan oksigen. Makin sedikit oksigen yang tersimpan berarti semakin buruk kondisi asma. Dengan menggunakan spirometer dapat mengukur berapa banyak udara yang tersimpan di paru-paru tersebut.


 Penggunaan nebulizer untuk bayi

Nebulizer Philips Innospire Essence


Tujuan pengobatan asma untuk menghentikan serangan secepat mungkin dan mencegah serangan berikutnya. Untuk mencapai tujuan tersebut diberikan obat yang bersifat bronkodilator pada waktu serangan dan obat anti inflamasi untuk menurunkan hiperaktivitas bronkus sebagai tindakan pencegahan. Pemberian obat asma bisa dilakukan dengan cara perenteral, oral dan inhalasi. Pemberian obat secara parenteral atau oral sering menimbulkan efek samping seperti gangguan gastrointestinal atau efek samping lain. Sehingga pemberian obat asma paling cocok diberikan dengan menggunakan terapi inhalasi dengan alat nebulizer.

Berikut terdapat hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer yaitu :
  • Pasien yang tidak sadar/confusion tidak kooperatif dengan prosedur ini, membutuhkan masker/sungkup, tetapi penggunaan masker mengurangi efektifitas pengobatan.
  • Medikasi nebulizer kontraindikasi pada keadaan dimana suara napas tidak ada/berkurang, kecuali jika medikasi nebulizer diberikan melalui endotracheal tube yang menggunakan tekanan positif. Pasien dengan penurunan pertukaran gas juga tidak dapat menggerakkan/memasukkan medikasi secara adekuat ke dalam saluran napas.
  • Pemakaian katekolamin pada pasien dengan cardiac irritability harus dengan perlahan. Ketika diinhalasi katekolamin dapat meningkatkan cardiac rate dan menimbulkan disritmia.
  • Medikasi nebulizer tidak dapat diberikan terlalu lama melalui IPPB/Intermittent Positive Pressure Breathing. Sebab IPPB mengiritasi dan meningkatkan bronkhospasme

Adapun peralatan yang digunakan adalah:
  • Nebulizer dan tube penghubung
  • Cannula oksigen
  • Tube berkerut, pendek
  • Sumber kompresi gas/O2/udara/compressor udara
  • Medikasi/obat yang diberikan melalui nebulizer.
Persiapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Tempatkan pasien pada posisi tegak/40-90 derajat yang memungkinkan klien ventilasi dan pergerakan diafragma maksimal.
  • Kaji suara napas, pulse rate, status respirasi, saturasi oksigen sebelum medikasi diberikan.
  • Kaji heart rate selama pengobatan, jika heart rate meningkat 20x per menit, hentikan terapi nebulizer, pada pasien hamil, heart fetus harus dikaji.
  • Instruksikan pasien untuk mengikuti prosedur dengan benar, lakukan perlahan, napas dalam dam tahan napas saat inspirasi puncak beberapa saat.
Berikut tahapan prosedur yang dilakukan yaitu:
  • Berikan oksigen suplemen, dengan flow rate disesuaikan menurut kondisi/keadaan pasien, pulse oxymetri/ hasil AGD. Inhalsi katekolamin dapat merubah ventilasi-perfusi paru dan memperburuk hipoksemia untuk periode singkat.
  • Pasang nebulizer dan tube dan masukkan obat ke dalam nebulizer sesuai program (obat-obat bronchodilator ada yang berupa cairan untuk pengobatan hirup, cairan bronchodilator sebanyak 0,3-0,5 ml. Ditambahkan /dicampur sejumlah normal saline steril sebanyak 1 ml sampai 1,5 ml ke nebulizer sesuai program.
  • Hubungkan nebulizer ke sumber kompresi gas, berikan oksigen 6-8 liter/menit, sesuaikan flow rate oksigen sampai kabut yang keluar sedikit tipis, jika terlalu kuat arusnya obat dapat terbuang sia-sia.
  • Pandu pasien untuk mengikuti teknik bernapas yang benar.
  • Lanjutkan pengobatan sampai kabut tidak lagi diproduksi.
  • Kaji ulang suara napas, pulse rate, saturasi oksigen dan respiratory rate. Pemberian mungkin membutuhkan waktu selama 10-15 menit/30-40 menit. Komplikasi/efek samping obat dapat berupa nausea/mual-mual, vomit/muntah, tremor/tangan bergetar, bronkospasme, takikardia/jantung berdebar cepat.




Oleh : Bidan Rina Widyawati
Sumber :
  • dokita.com




Terima kasih untuk Like/comment FB :