Ventolin Inhaler - obat Nebulizer

Asma merupakan gangguan inflamasi (radang) kronik jalan pernapasan yang melibatkan berbagai sel inflamasi. Terjadinya asma disebabkan oleh peningkatan respon saluran pernapasan terhadap rangsangan pada paru-paru. Peningkatan respon ini ditandai dengan penyempitan saluran pernapasan terhadap rangsangan pada paru-paru. Peningkatan respon ini ditandai dengan penyempitan saluran napas disertai keluarnya lendir yang berlebihan dari kelenjar-kelenjar di dinding saluran napas, sehingga menimbulkan gejala batuk, mengi dan sesak. Dalam mengobati serangan penyakit asma yang sedang terjadi diperlukan obat yang menghilangkan gejala penyakit asma dengan segera.


Ventolin Inhaler
 Ventolin inhaler

Ventolin Inhaler
 Nebulizer Omron NE-C28

Ventolin Inhaler

Obat tersebut dapat berupa golongan bronkodilator atau golongan kortikosteroid sistemik yang dikemas dalam suatu alat bernama inhaler. Inhaler atau obat hirup cukup populer di kalangan penderita asma.

Inhaler adalah alat kesehatan (medical device) yang digunakan untuk mengantarkan obat ke dalam tubuh melalui paru-paru. Pada umumnya inhaler merupakan produk aerosol. Aerosol merupakan sistem yang bergantung pada kekuatan dari liquid gas yang terkompresi untuk mengeluarkan isi dari kontainer. Aerosol terdiri dari 2 komponen yaitu:
  1. Produk terkonsentrat (product concentrate), yang terdiri dari zat aktif obat atau campuran dari zat aktif obat atau campuran dari zat aktif dan bahan penting lainnya seperti pelarut, antioksidan dan surfaktan.
  2. Propellant (pendorong obat). Selama ini masih banyak inhaler mengandung chlorofluorocarbon (CFC) sebagai propellant, tetapi mulai 1 Januari 2009, FDA (Badan POMnya Amerika) memutuskan bahwa inhaler asma yang diproduksi di Amerika Serikat, harus menggunakan HFA (Hydrofluoroalkane), propellant yang ramah lingkungan karena tidak merusak lapisan ozon. CFC yang selama ini biasanya ditemukan pada obat-obat asma didalam inhaler memang dituding sebagai gas perusak lingkungan.
Salah satu jenis obat inhaler yang sering digunakan adalah Ventolin Inhaler 100 mcg. Ventolin inhaler berkomposisikan Salbutamol sulfate. Indikasi Ventolin inhaler:
  1. Pengobatan dan pencegahan asma bronkhial
  2. Pengobatan pada kondisi lain seperti bronkhitis dan emfisema, yang berhubungan dengan penyumbatan saluran pernapasan yang bersifat reversibel
  3. Terapi pemeliharaan rutin pada asma kronis dan bronkhitis kronis

Kontraindikasi:

Abortus yang mengancam selama kehamilan trimester 1 dan 2. Penanganan persalinan prematur seperti plasenta previa, perdarahan antepartum atau toksemia gravidarum.

Perhatian:
  1. Tirotoksikosis
  2. Sediaan salbutamol dalam bentuk inhalasi tidak disediakan untuk menangani kelahiran bayi prematur
  3. Hamil, menyusui
Interaksi obat:
  1. Β-bloker non selektif
  2. Hipokalemia terpotensiasi oleh derivat xantin, steroid, diuretika, dan hipoksia (kekurangan oksigen dalam jaringan)

Efek samping:

Gemetar halus pada otot rangka, perasaan tegang, vasodilatasi perifer, suatu kompensatori kecil peningkatan irama jantung, sakit kepala, kejang otot sementara, reaksi hipersensitifitas, berpotensi menderita hipokalemia yang serius, hiperaktifitas pada anak-anak, bronkhospasme paradoksikal.

Indeks keamanan pada wanita hamil:
Penelitian pada hewan menunjukkan efek samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan belum ada penelitian yang terkendali pada wanita dan hewan belum tersedia. Obat seharusnya diberikan bila hanya keuntungan potensial memberikan alasan terhadap bahaya potensial pada janin.

Dosis

Dewasa:
Bronkhospasme akut dan penanganan episode intermiten pada asma: 1-2 hembusan sebagai dosis tunggal. Pemeliharaan menahun atau sebagai pencegahan:3-4 kali sehari 2 hembusan. Untuk mencegah bronkhospasme yang dipicu oleh latihan/gerak badan yang berlebihan: 2 hembusan sebelum latihan (olahraga)

Anak-anak:
Bronkhospasme akut, penanganan saat asma atau sebelum olah raga: 1 hembusan. Pencegahan atau pmeliharaan rutin: 3-4 kalli sehari 1 hembusan. Dosis ini dapat ditingkatkan sampai 2 hembusan jika perlu.




Oleh : Bidan Esi Esasi
Daftar pustaka:
  • Dipiro, J.T., et al, 2008, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach 7th edition, McGraw-Hill Companies.




Terima kasih untuk Like/comment FB :